« Muhasabah..Renungkanlah | Main | Islam Hasan dan Husai (AS) »

Ujian.. Bentar Lagi.. Slalu Ujian^_^

                            **Ujian...? **

Itulah mungkin kata yang terpikir oleh kita akhir-akhir ini. Setiap mata memandang hanyalah antrian mahasiswa yang memenuhi halte bus. Tiap kali mau naik mobil, mahasiswa bergelayutan di delapan puluh coret atau enam puluh lima kuning lah yang nampak. Ya sebentar lagi ujian. Beruntunglah bagi Anda yang sudah mempersiapkan diri baik-baik sejak jauh hari.

Tatkala mendengar kata "ujian" kebanyakan kita masih menganggapnya sebagai kata angker.

Ujian, imtihan, ulangan, tes, seakan menjadi beban yang menyusahkan. Padahal ujian adalah sebuah keniscayaan dalam hidup ini. Tidak ada makhluk hidup yang tidak mengalami ujian. Justru memalui ujian ini derajat kita akan meningkat. Allah  berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.”


Oleh karena itu ujian adalah penting bagi kita. Ujian akan membuat sesuatu menjadi terukur. Akan mendorong kita untuk selalu meningkatkan potensi diri kita. Dengan ujian kita akan tahu siapa diri kita yang sesungguhnya.  Kemampuan apasaja yang sudah kita miliki. Berapa banyak ilmu yang sudah kita kuasai. Berapa juz Al-qur’an yang sudah kita hafal. Semua itu akan kita ketahui setelah melewati ujian.

Jadi yang menjadi masalah bukan ada tidaknya ujian, tapi bagaimana cara menyikapi ujian. Dan itu butuh ketrampilan. Dari soal yang sama bisa jadi akan menimbulkan masalah yang berbeda. Ada yang senang dan ada juga yang sedih. Maka jika kita salah dalam memasang rumusnya, maka akan salah pula dalam menjawab dan menyikapi ujian tersebut.

Secara umum sikap dalam menghadapi ujian ini dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan.

  • Golongan pertama adalah jenis mahasiswa yang menyikapi ujian dengan membayangkannya sebagai suatu beban yang sangat berat. Tipe ini pada umumnya akan mudah terjatuh. Ia menganggap ujian yang akan dihadapinya adalah beban yang sangat berat dan sulit untuk dipecahkan. Baginya, ujian adalah rentetan penderitaan. Ia tidak mengetahui ujung dari ujian itu, bisa jadi karena tertutup oleh tebalnya mukoror. Sampai ada yang nekad tidak masuk ujian. Alasannya satu, takut. Padahal realitanya ujian tidak seberat apa yang ia bayangkan.

HAl ini akan dipersulit oleh dirinya sendiri. Bukan oleh keadaan yang memang benar-benar sulit.

  • Golongan kedua adalah  yang menyikapi ujian dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan. Persiapan bisa mendadak. ‘Sistem Kebut Semalam’* (Gw banget..Red) biasanya menjadi alternatif utama. Belajar kalau ujian sudah dekat. Menghafal al-Qur’an bila hari imtihan tinggal hitungan jari. Belajar karena ujian.  Padahal guru kita waktu SD dulu mengajarkan bahwa justru dari ujian itu kita belajar. Bukan belajar semata-mata karena ujian.

Belajar yang dilakukan hanya untuk ujian, ketika ujian selesai, ilmu yang dipelajari dan dihafal biasanya juga ikut-ikutan selesai. Yang membekas hanyalah rasa lelah dan letih. Uang habis untuk membeli dan memphotocopy mukoror dan talkhisan, pulsa berkurang karena digunakan untuk menelepon kawan-kawan menanyakan tahdidan. Hanya sebatas itu. Padahal masyarakat menilai bahwa kita belajar semua cabang ilmu. Sehingga ketika kembali ke tanah air sudah mengantongi segudang ilmu yang siap ditransfer kepada umat.

  • Golongan ketiga adalah  yang menghadapi ujian dengan sikap tenang. Serius tapi santai, santai tapi serius. Ia mampu memetakan medan yang akan ia terjuni. Jauh-jauh sebelum hari ‘H’ sudah mempunyai gambaran tentang ujian. Ia tahu bahwa semua ujian ini pasti terukur. Tidak mungkin Allah memberikan ujian yang tidak bisa dipecahkan.

Belajar adalah tugas utama yang mulia.

Sumber : http://abunasr.multiply.com/journal?&page_start=20

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .